_____________________________________________________

Kigunikan festival folklore yang digelar di Uzbekistan, sebuah negara dengan warisan budaya yang kaya, menjadi momentum untuk berbagai penampilan musik. Namun, dalam gelaran tersebut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan: grup musik akulturasi religi asal Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur, menggemakan lagu “Caping Gunung” yang membuat festival tersebut diguncang.

Ki Ageng Ganjur, sebuah grup musik yang dikenal dengan karyanya yang menyebar luas, memutuskan untuk mengadakan penampilan di Uzbekistan sebagai bagian dari festival folklore yang diselenggarakan pemerintah. Kehadiran mereka menjadi perhatian para pengunjung, namun tidak semua orang setuju dengan gaya bermain Ki Ageng Ganjur.

Pada malam pertama kehadiran Ki Ageng Ganjur, grup musik tersebut memainkan lagu “Caping Gunung” yang menjadi ciri khasnya. Namun, hal ini menyebabkan beberapa pengunjuk festival merasa tidak nyaman dan beranjak dari lokasi acara. Mereka menganggap bahwa lagu tersebut terlalu liar dan tidak sesuai dengan tema festival folklore.

Kejadian ini memunculkan perdebatan antara pihak Ki Ageng Ganjur dan pihak pengunjuk festival. Pihak festival berpendapat bahwa Ki Ageng Ganjur harus lebih memperhatikan tema festival, sementara pihak Ki Ageng Ganjur berpendapat bahwa mereka hanya ingin menampilkan karya mereka tanpa perlu memperhatikan tema.

Akhirnya, pihak festival berakhir dengan keputusan untuk tidak lagi mengizinkan Ki Ageng Ganjur tampil di acara tersebut. Kedua belah pihak masih belum menemukan kesepakatan dan konflik ini menjadi sorotan di Uzbekistan.

#FolkloreFestival #Uzbekistan #KiAgengGanjur
_____________________________________________________

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *