Studi terbaru menemukan bahwa kebiasaan tidur yang buruk pada anak-anak berisiko lebih tinggi mengalami diagnosis depresi saat memasuki masa remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurang tidur semasa kecil dapat menjadi indikator risiko depresi usia remaja.
Peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) melakukan studi longitudinal pada 1.300 anak-anak yang berusia antara 3 hingga 5 tahun. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang kurang tidur semasa kecil memiliki tingkat risiko lebih tinggi mengalami depresi saat memasuki masa remaja, yaitu sekitar 15-20%.
Ketentuan tidur yang buruk pada anak-anak dapat menyebabkan stres dan gangguan emosional yang berkepanjangan. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi pada masa remaja. “Anak-anak yang kurang tidur semasa kecil cenderung memiliki sistem imun yang lemah, serta stres dan gangguan emosional yang berkepanjangan,” kata Dr. Judith Owens, peneliti dari UCLA.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor lain seperti gaya hidup yang tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko depresi pada masa remaja.
Pengamalan terhadap kualitas tidur pada anak-anak menjadi penting untuk mengurangi risiko depresi pada masa remaja. Orang tua dan profesional kesehatan harus lebih aware akan pentingnya tidur yang cukup bagi anak-anak, serta berperan dalam mencegah gangguan emosional yang dapat menyebabkan depresi.
**#DepresiRemaja #TidurAnak #KesihatanMental**