2
Dalam dunia politik, komunikasi efektif menjadi salah satu kunci kesuksesan. Namun, apakah komunikasi yang efektif juga berarti manipulatif? Dalam kajian ilmu komunikasi, ada satu teori klasik yang tetap relevan hingga hari ini: Doktrin Goebbels.
Doktrin Goebbels sendiri diperkenalkan oleh Joseph Goebbels, seorang politikus Jerman Nazi. Teori ini mengatakan bahwa komunikator harus memiliki kontrol penuh atas informasi dan pesan yang di-sampaikan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dengan cara mengedit atau menyeleksi informasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam era digital, Doktrin Goebbels tampaknya masih sangat relevan. Salah satu contoh yang paling nyata adalah dalam gaya komunikasi Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45. Trump terkenal akan gaya komunikasinya yang agresif dan tidak takut menyerang lawan-lawannya.
Gaya komunikasi Trump juga seringkali dianggap sebagai contoh bagian dari Doktrin Goebbels. Hal ini karena Trump sangat selektif dalam mengkomunikasikan informasi, dan seringkali memilih pesan yang mendukung tujuan politiknya. Misalnya, Trump pernah menuduh media mainstream sebagai “fakes news” (berita palsu) tanpa memberikan alasan yang jelas.
Namun, apakah gaya komunikasi Trump yang demikian juga berarti manipulatif? Banyak ahli komunikasi dan ilmu politik mengatakan bahwa Trump tidak lain daripada menggunakan strategi komunikasi yang sudah diketahui sebelumnya. Mereka menunjukkan bahwa Trump hanya mengikuti jejak langkah Goebbels, yakni dengan cara mengedit atau menyeleksi informasi untuk mencapai tujuan politik.
#KomunikasiPolitik #ManipulasiInformasi #DoktrinGoebbels