Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian telah menemukan bahwa konsumsi pereda nyeri berlebihan dapat memicu sakit kepala berulang. Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. …, mengungkapkan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan tekanan pada otak, yang kemudian mempengaruhi keseimbangan neurotransmiter.
“Sakit kepala berulang tidak hanya disebabkan oleh faktor genetik atau trauma fisik, tapi juga oleh gaya hidup yang salah,” kata dr. … dalam wawancara dengan portal berita online. “Konsumsi pereda nyeri berlebihan dapat mempengaruhi fungsi otak dan meningkatkan risiko sakit kepala berulang.”
Dr. … menjelaskan bahwa pereda nyeri biasanya digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, tapi jika dikonsumsi berlebihan, dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. “Ketika kita konsumsi pereda nyeri, maka tubuh memproduksi enkefalin, hormon rasa sakit yang berfungsi sebagai penghambat rasa sakit,” kata dr. … “Namun, jika konsentrasi enkefalin meningkat, maka dapat menyebabkan sakit kepala berulang.”
Dalam beberapa kasus, konsumsi pereda nyeri berlebihan juga dapat mempengaruhi fungsi gastrointestinal dan sistem saraf. “Penggunaan pereda nyeri berlebihan dapat menimbulkan iritasi pada usus, yang kemudian mempengaruhi fungsi pencernaan,” kata dr. … “Selain itu, konsumsi pereda nyeri juga dapat mempengaruhi sistem saraf dan meningkatkan risiko depresi.”
Dokter RSUI ini juga menyarankan agar orang-orang tidak bergantung pada pereda nyeri untuk menghilangkan rasa sakit. “Kita harus belajar mengelola stres dan emosi dengan cara-cara yang lebih sehat, seperti meditasi, yoga, atau olahraga,” kata dr. … “Dengan demikian, kita dapat mengurangi konsumsi pereda nyeri dan meningkatkan keseimbangan tubuh.”
**#SakitKepalaBerulang #PeredaNyeri #GayaHidupSehat**