Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai rencana ekspor beras ke Singapura sebagai peluang serap surplus RI. “Keterkaitan antara penawaran dan permintaan pangan di Indonesia dengan Singapura dapat memungkinkan kita meningkatkan ekspor beras dan mengurangi surplus domestik,” jelasnya dalam wawancara dengan BeritaOnline.
Rencana tersebut berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen pangan terbesar di dunia. Menurut data Departemen Pertanian, produksi beras di Indonesia mencapai 76,8 juta ton per tahun, namun hanya sebagian kecil yang diekspor. Sementara Singapura, yang memiliki populasi lebih dari 5 juta jiwa, mengalami keterbatasan dalam memproduksi beras sendiri.
Esther menambahkan bahwa rencana ekspor beras ke Singapura juga dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertanian Indonesia. “Dengan mengoptimalkan potensi ekspor beras, kita dapat meningkatkan pendapatan petani dan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Selain itu, rencana tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Singapura. “Beras Indonesia dikenal dengan kualitas yang bagus dan aman untuk dikonsumsi. Keterlibatan kita dalam pasar ekspor beras ke Singapura dapat meningkatkan aksesibilitas pangan yang seimbang bagi masyarakat Singapura,” tambah Esther.
Terkait rencana ini, Indef juga melakukan analisis lebih lanjut terkait kelayakan dan keterkaitan dengan pelaku industri lainnya. “Kami berencana untuk melakukan studi lanjut tentang potensi pasar beras di Singapura dan mengembangkan strategi yang tepat untuk meningkatkan ekspor beras,” jelas Esther.
**#Ekonomi #Pertanian #Indonesia**