2

Publik di tanah air semakin sering mendengar istilah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REEs). Hal itu terjadi karena ketergantungan Indonesia pada bahan-bahan logam yang langka tersebut. Mereka digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti teknologi informasi, energi, dan peralatan medis.

Namun, tantangan besar menghadapi Indonesia adalah bagaimana memenuhi kebutuhan LTJ yang terus meningkat sementara ketersediaan sumber daya alamnya sendiri masih sangat terbatas. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2019, produksi LTJ di Indonesia hanya mencapai 1,4% dari total konsumsi global. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor LTJ terbesar.

Banyak pihak berpendapat bahwa ketergantungan pada impor LTJ dapat berakibat buruk bagi keamanan energi dan ketahanan nasional. Oleh karena itu, perlu diinvestasikan pada penelitian dan pengembangan teknologi produksi LTJ domestik. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan global lainnya.

Saat ini, beberapa institusi penelitian dan industri telah melakukan upaya untuk memahami potensi LTJ di Indonesia. Mereka melakukan survei dan analisis yang seksama untuk menemukan sumber daya alam yang terkait dengan LTJ. Hasilnya dapat membantu meningkatkan ketersediaan LTJ domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Dalam jangka panjang, investasi pada penelitian dan pengembangan teknologi produksi LTJ domestik dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menjamin keamanan energi dan ketahanan nasional. Oleh karena itu, perlu diinvestasikan pada inovasi dan pengembangan sumber daya alam yang terkait dengan LTJ.

#RareEarthElements #Indonesia #Sustainability

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *