Pagi itu, Novi, tidak sekadar datang ke pos gizi. Warga Ngawi itu datang sebagai ibu hamil dengan risiko melahirkan premature. Namun, ia berkeberatan menolak stunting yang diberikan oleh petugas kesehatan setempat. Ia yakin bahwa stunting dapat membahayakan kesehatan anaknya, dan tidak ingin terjadi hal itu.
Novi datang ke pos gizi dengan perasaan khawatir dan cemas. Ia telah mengalami beberapa kejadian sulit sebelumnya, termasuk melahirkan premature sebanyak tiga kali. Akibatnya, ia sangat waspada terhadap risiko yang mungkin timbul jika anaknya lahir prematur.
“Ketika saya datang ke pos gizi, saya berkeberatan menolak stunting. Saya yakin bahwa stunting dapat membahayakan kesehatan anak saya,” ujar Novi dalam wawancara dengan media.
Novi memutuskan untuk tidak menerima stunting setelah melakukan penelitian tentang risiko yang timbul jika anaknya lahir prematur. Ia ingin menjaga kesehatan anaknya dan memberikan dia kehidupan yang seimbang.
Keberanian Novi telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di Ngawi. Banyak orang melihat bahwa stunting tidak hanya dapat membahayakan kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu psikologis bayi yang lahir prematur.
“Kami sangat senang dengan keberanian Novi. Ia menunjukkan bahwa wanita hamil mempunyai hak untuk menolak stunting jika ia berpikir itu tidak aman bagi anaknya,” ujar dr. Wiwin, dokter kandungan yang pernah menjaga Novi.
#Stunting #KesehatanAnak #WanitaBerani